
Aku selalu cemburu kepada banyak hal darimu
Aku cemburu pada pena yang kerap menari di jemarimu ketika ratusan diksi terpintal menjadi tenunan puisi.
Pena lebih akrab akan sentuhanmu daripada aku, walau katamu, aku adalah puisipuisimu, aku tetap saja cemburu.
Kamu bicara kepada angin, kepada awan, kepada embun, kepada halimun, dan juga kepada daundaun, pun kepada hujan dengan begitu mesranya, walau katamu, itu karena ketidakkuasaanmu memandang wajahku, aku tetap saja cemburu.
Berapa kerap aku cemburu pada cangkir kopi yang sedemikian sering dikecup oleh bibirmu?
Ini sajak cemburu paling gebu yang kutulis sebagai pelampiasan rindu yang terus saja mengombak di dadaku … tentangmu.